Ini peran dua eks bos Bank DKI yang jadi tersangka fasilitas kredit

 Reporter : Muchlisa Choiriah | Rabu, 20 April 2016 11:25
 Merdeka.com – Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta kembali menetapkan dua tersangka baru atas kasus pemberian fasilitas kredit oleh Bank DKI Jakarta kepada PT. Likotama Harum dan PT. Mangkubuana Hutama Jaya pada tahun 2013 silam. Keduanya yakni Eko Budiwiyono (EB) dan Mulyanto Wibowo (MW).

Cara Irit Pererat Pertemanan dengan Jalan-JalanDiketahui EB merupakan mantan Direktur Utama (Dirut) Bank DKI tahun 2014, sedangkan MW merupakan mantan Direktur Pemasaran Bank DKI tahun 2014.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI Jakarta Sudung Situmorang pun mengungkapkan peran kedua tersangka.

“Peran keduanya adalah mencairkan kredit, padahal seharusnya tidak boleh. Kan ada data yang disampaikan. Namun, datanya tak benar semua,” kata Sudung di Gedung Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Rabu (20/4).

Sudung mengungkapkan, dalam penyaluran kredit kepada PT. Likoma Harum pada tahun 2011 sampai dengan 2014 sebesar Rp 230 Miliar didasarkan atas data-data atau dokumen yang tidak sebenarnya.

“Dalam data-data atau dokumen tersebut seolah-olah PT. Likotama Harum telah memenangkan lelang beberapa proyek, namun fakta sebenarnya para penyusun MAK dan pemutus kredit ini telah mengetahui bahwa PT Likotama Harum bukan pemenang lelang sebenarnya,” ujarnya.

“Dan tersangka ini lah yang dua tersangka baru ini. Namun keduanya belum kami tahan. Mereka pernah kami periksa sebagai saksi. Belum ditahan, nanti kami panggil dulu. Minggu depan ya kami panggil,” tambahnya.

Selain itu, Lanjut Sundung, pihaknya juga akan melakukan pencekalan keluar negeri kepada kedua tersangka.

“Mereka akan kami cekal, untuk aliran dana dan kemungkinan tersangka lain masih kami kembangkan ya,” tutupnya.

Diketahui sebelumnya, Kejati sudah menetapkan empat tersangka yakni Dulles Tampubolon selaku mantan Group Head Kredit Komersial Korporasi Bank DKI (tahap penuntutan), Hendri Kartika Andri selaku mantan Account Officer Korporasi Bank DKI (tahap penuntutan), Supendi selaku mantan Owner PT LH (tahap penuntutan), dan Gusti Indra (dalam proses penyidikan).

Berdasarkan hasil perhitungan negara dari BPKP, kerugian negara dalam kasus ini Rp 267 Miliyar. Kredit ini tiga tahun dari 2011 sampai 2014. Tiga kali pula dikucurkan.

Atas hal itu lah, para tersangka dikenakan pasal 2 ayat (1) serta pasal 3 UU 31 tahun 1999 juncto 20 tahun 2011 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

sumber link : https://www.merdeka.com/jakarta/ini-peran-dua-eks-bos-bank-dki-yang-jadi-tersangka-fasilitas-kredit.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *