BANDARA KULONPROGO – Polemik Ahli Waris Bergulir ke Pidana

Sumber : http://www.solopos.com/2017/02/11/bandara-kulonprogo-polemik-ahli-waris-bergulir-ke-pidana-792251

Sabtu, 11 Februari 2017 17:39 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja

BANDARA KULONPROGO 
Polemik Ahli Waris Bergulir ke Pidana

Solopos.com, KULONPROGO — Polemik mengenai keabsahan ahli waris Paku Buwono X dan GKR Hemas terkait kepemilikan lahan Paku Alam Grond (PAG) terdampak bandara akan bergulir ke ranah pidana. Pihak penggugat intervensi segera mengajukan laporan ke kepolisian terkait kejahatan asal usul.

Pihak penggugat intervensi merupakan anak dari GKR Pembayun dengan Mohammad Sis Tjakraningrat. GKR Pembayun sendiri dikatakan sebagai putri tunggal dari PB X dengan GKR Hemas. Suhartawan Hutapea, dari MMS Consulting kuasa hukum yang mewakili, menyatakan hal tersebut.

“Segera melakukan laporan ke kepolisian yang mengaku keturunan namun tidak berhak, masuknya ranah pidana tentang kejahatan asal usul”ujarnya pada Jumat(10/2/2017).

Tindakan pidana tersebut dapat dijerat dengan Pasal 277 KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal 6 tahun. Dikatakan pula jika kliennya sama sekali tak mengenal penggugat pertama yang mengaku sebagai keturunan dari GKR Hemas. Suhartawan menyebutkan pihaknya memiliki sejumlah dokumen pendukung terkait validitas dan keabsahan garis keturunan tersebut.

Bukti tersebut berupa foto, akte pernikahan, dan surat kematian. Silsilah keluarga mulai dari GKR Hemas hingga kliennya sampai saat ini juga masih tercata dalam buku silsilah keluarga yang dikeluarkan Kasunanan Surakarta. Kliennya juga selama ini masih dilibatkan dalam berbagai kegiatan keluarga Kasunanan Surakarta meski berdiam di daerah terpisah. Bahkan, kliennya mengetahui adanya oknum yang mengklaim garis keluarga tersebut setelah dihubungi oleh GKR Wandansari dan KPA Wirabhumi. Kliennya juga telah melakukan pertemuan dengan pihak Keraton Surakarta Hadiningrat terkait permasalahan ini.

Muhammad Endrawan, cicit dari PB X, mengatakan jika GKR Pembayun alias GKR Koestijah menikah dengan M. Sis Tjakraningrat, berasal dari Bangkalan, Madura, menikah secara sah pada 3 Desember 1945. Pernikahan tersebut tercatat dalam pencatatan pernikahan Keraton Surakarta. Dari pernikahan tersebut memiliki 4 anak sah yakni Bray Koes Siti Marlia, Bray Koes Sistiyah Siti Mariana, M. Munier Tjakraningrat, dan M. Malikul Adil.

“Bahkan eyang[GKR Pembayun] meninggal di rumah ayah saya[M.Malikul Adil] di Pamulang,”ujarnya ditemui di lokasi yang sama. GKR Pembayun meninggal Juli 1988 sebagaimana tercantum dalam surat kematian dari Kelurahan Pamulang Barat, Tangerang. Endrawan menegaskan pihaknya tidak bicara mengenai materi Rp701miliar namun lebih kepada kebenaran dan fakta sejarah. Dikatakan selama ini keluarganya memang cenderung tidak mau lagi ikut campur namun pihaknya geram ketika ada mencatut GKR Hemas dan mengaku keturunannya.

Terlebih lagi, pihak penggugat juga menyatakan jika GKR Pembayun alias Waluyo menikah dengan Wugu Harjo Sutirto. Perkawinan tersebut kemudian menghasilkan 2 putri yakni Suwarsi dan Suwarti. Endrawan menegaskan jika GKR Pembayun tidak pernah memiliki nama Waluyo ataupun menikah dengan Wugu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *